Advertisement 300 X 250

Showing posts with label Life/Style. Show all posts
Showing posts with label Life/Style. Show all posts

Thursday, June 2, 2011

Gaya hidup Sehat Histerektomi


Hari-hari ini, tingkat stres dan polusi di tengah-tengah sangat membuncah. Sudah saatnya kita bergaya hidup sehat, agar tak terena hal serupa. Apalagi jika Anda seorang wanita dewasa dan pernah melalui operasi besar seperti histerektomi. Apa itu? Histerektomi berasal dari bahasa yunani yakni hystera yang berarti “rahim” dan ektomi  yang berarti  “pemotongan”.  Sehingga Histerektomi berarti operasi pengangkatan rahim
Masalah kesehatan pasca-histerektomi, seperti berat badan, lekas marah dan tidak bisa tidur nyenyak tiba-tiba bisa menjadi masalah. Oleh karena itu harus ditolong dengan pola gaya hidup yang pas. Lebih krusial lagi, jika Anda telah diidentifikasi sebagai calon histerektomi, Anda seharusnya lebih serius mempertimbangkan gaya hidup sehat sebagai bagian dari persiapan pra-operasi Anda.
Gaya Hidup Sehat Pra-Histerektomi
Makan secukupnya dan bergerak sebanyaknya, adalah kunci diet pas bagi Anda yang mengalamai elebihan berat badan pasca hosterektomi. Hal ini pun baik diterapkan bagi Anda yang baru dideteksi terkena histerektomi.
Makan untuk Hidup
Go green… and yellow and orange and red. Konsumsilah sayuran dan buah-buahan dalam 3 warna pilihan tersebut. Mereka terbukti menjadi sumber terbaik vitamin dan antioksidan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh Anda.
Konsumsi kacang-acangan
Segala bentu kacang-kacangan, diyakini memiliki kandungan serat yang lebih banyak daripada sereal biasa. Hal ini baik untuk diet bagi para histerektomi.
Perhatikan Sumber Lemak
Sebisa mungkin menghindari lemak trans dan lemak jenuh dari margarin, mentega dan makanan yang digoreng. Pilihlah jenis lauk berupa ikan daripada daging merah sebagai sumber protein Anda.

Kalsium
memerangi terjadinya tulang rapuh dengan mendapatkan setidaknya 1200 mg kalsium sehari-hari, baik dari berbagai makanan yang mengandung kalsium ataupun suplemen susu.
Prioritas
Tentukan prioritas hidup Anda. Agar tidak terlalu maru dan tertekan dengan tuntutan hidup yang berakibat stress.
Berolahraga
Aktifitas fisik tidak hanya membangun kesehatan dan mempercepat metabolisme Anda, tetapi ia juga melepaskan endorphin, hingga membuat Anda merasa baik.
Pilates dan Yoga
Keduanya baik untuk meregangkan otot-otot tubuh dan ligament kita. Jadi pilihlah atau bisa saja lakukan keduanya.
Ayo berusaha, dan dapatkan hidup sehat Anda
Read more »

Saturday, May 28, 2011

Green Lifestyle Save the Future Generation Successor


Greening the environment is not only the responsibility of government, or manufacturer only. Green Lifestyle begin a lifestyle of every person and can be done starting from the action real and simple.

The average volume of waste in the capital with a population of about 9.5 million people to reach 6,000 tons per day, of which there are approximately 3,700 tons of plastic waste. There are even those estimates, Jakarta midden in two days is equal to the Borobudur temple! The average amount of garbage filled disposable plastic and styrofoam. Is it worth to be left, so that it can interfere with the preservation of an environment and health?
Consideration of various products used in everyday life is necessary for the health of our bodies and of course how the impact caused to the environment.
Tupperware is a food grade plastic products with an airtight seal, or lid, so that it becomes a safe place to store food and durable and does not spill.
How do I cope with this garbage from yourself? The most effective and simple way to reduce waste or plastic waste and disposable packaging is to apply the principle of 3R (Reduce, Reuse, Recycle). This action when starting from the smallest neighborhood that is family.

    
* Reduce, reduce use of disposable containers such as plastic bags or Styrofoam. What can be done for example to bring wadar from home for their food or drink, places to buy food and special drinks, or bring a cloth bag when shopping. It sounded simple, but it turns out these things are beneficial to health, because the food is brought guaranteed cleanliness. Nutrients are not lost, so the food is still in good condition when consumed.
    
* Reuse; use containers that can be used repeatedly. Even if have to use plastic containers, plastic container choose which content is safe for the body material. It would be better if the food or beverage container in accordance with the food to be stored, so that it can be used repeatedly. In addition, the plastic container also should be well cared for quality is maintained so that a longer period of usage.
    
* Recycle, recycle waste. Disposable plastic trash can handed to people who have the craft to recycle waste, they usually make bags, umbrellas or souvenirs.
Green Lifestyle Campaign endorsed by the Tupper, namely:

    
* Bring your own containers for food and beverages
    
* Use a container that can be used repeatedly.
    
* Smart Shopping (shopping carefully), shopping with a special plastic container to bring food or drinks or food from the store. So the freshness of food ingredients will remain intact without the use of disposable plastic or styrofoam. Food ingredients / Drinks and food can be directly stored in place.
    
* Exchange of defective products due to normal use without having to submit proof of product purchase.
For greening our environment, who else do it if not us, then let us move the Green Lifestyle also started from our family of course.


Viva ARTSAS
Read more »

Monday, April 4, 2011

Tanamkan Kebiasaan Berbagi Sejak Dini

Banyak manfaat lain yang kita dapatkan dengan kebiasaan berbagi, antara lain kita jadi pandai bersosialisasi dengan orang lain, mendapatkan rasa aman, damai, memiliki rasa cinta yang besar, dan berdaya.
Untuk menciptakan kebiasaan berbagi, Anda perlu mengajarkan kebiasaan ini pada anak sejak dini. Peran Anda sebagai ibu sangat besar dalam menularkan kebiasaan untuk berbagi. Sebab sebagai ibu, Anda punya kedekatan emosi yang lebih besar dengan anak.
Umumnya, ibu juga mempunyai waktu lebih banyak bersama anak. Sebagai perempuan, Anda juga dikaruniai kemampuan untuk mencurahkan kasih sayang dengan lembut.
Dra Rustika Thamrin Psi, CBA, CHT, CI,MTLT menjelaskan Anak harus diberi contoh terlebih dahulu, bagaimana dan untuk apa kita harus berbagi, karena sampai usia lima tahun anak adalah peniru semua yang dilakukan orang tuanya.
“Ketika perilaku ini dilakukan secara terus menerus, makin akan menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter yang kuat,” jelas Rustika di Jakarta.
Rustika menambahkan dalam memberi tidak harus berupa materi. Berbagi juga bisa diberikan dalam bentuk perhatian, senyuman, waktu, ketrampilan, sentuhan, harapan, saran, pengetahuan, dsb.
Menurutnya, waktu yang tepat mengajarkan anak untuk berbagi adalah saat berusia tiga tahun. Sebelum usia itu, anak masih egosentris, sehingga belum memiliki konsep untuk berbagi. “Jangan memaksanya untuk berbagi, karena bila terpaksa, imej berbagi itu menjadi negatif,” katanya.
Sebagai orang tua, Anda hanya perlu memberi contoh dan saran, bukan mengambil alih keputusan anak untuk berbagi. Biarkan anak menentukan sendiri bagaimana ia harus berbagi, karena bagaimanapun ia masih dalam proses belajar untuk itu.
Bahkan, beri juga kesempatan pada anak untuk tidak berbagi. Jangan lupa memberikan penghargaan saat anak mau berbagi, misalnya dengan memberi pujian, senyuman, pelukan, atau ciuman.
Akan lebih baik bila, jika Anda membuat program bersama keluarga dengan berbagi. Contohnya, dengan menjadwalkan waktu tertentu berkunjung ke panti asuhan, atau memberikan susu kotak, atau cemilan bergizi lain di Posyandu.
“Karena dengan melakukan semuanya itu dengan terus menerus, berbagi menjadi kebiasaan positif yang akan tubuh di dalam diri anak,” pungkas Rustika.
Read more »

Menghidupkan Kembali Budaya Kejujuran



Begitu pentingnya kejujuran dan kebenaran dalam bisnis dan pengelolaan berbagai kegiatan menyebabkan hampir semua organisasi dan lembaga meletakkan integritas, kejujuran, serta professional honesty sebagai faktor paling utama dalam nilai, budaya organisasi, dan kompetensi. Meskipun semua menyadari pentingnya hal ini ditegakkan, tetapi realitasnya kita menyaksikan betapa kejujuran dan kebenaran begitu rawan dibelokkan dan dilanggar. Padahal, dengan kompleksnya dunia kita sekarang, kita semakin menuntut integritas individu yang kokoh tidak tergoyahkan. Kita tentu bertanya-tanya, apakah nilai integritas cukup dengan cara dicekoki melalui sesi sosialisasi dan internalisasi budaya bagi seluruh karyawan? Apa yang salah dengan kebenaran di sekitar kita? Kita lihat berita seorang tahanan yang bebas keluar-masuk rutan dalam masa tahanannya, menjadi pembahasan panjang, dikomentari, dan menjadi headline berita. Ya, kebenaran memang dilanggar, nurani kita pun terusik. Padahal, kita juga sadar bahwa ini bukan kejadian luar biasa yang baru terjadi. Siapa yang tidak pernah mendengar kabar angin ada helipad di penjara yang kebetulan dihuni oleh salah satu orang terkaya di Indonesia? Siapa yang tidak tahu bahwa banyak tahanan berkeliaran dan bisa pulang dengan alasan sakit ke rumah?
Memberi dan menerima insentif atau suap, bukankah juga begitu sering kita temui? Disadari atau tidak, pemakaian fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi, korupsi waktu, juga kerap kita lakukan tanpa merasa bersalah, bukan? Jika kita sekarang ramai membicarakan cara memusnahkan jaringan servis yang ada di penjara atau mematikan korupsi atau tindakan kebohongan yang beredar di setiap sudut di lingkungan kita, tentu kita pun perlu serius memikirkan kebenaran dalam tiap langkah dan perbuatan dalam diri kita dan sekitar kita juga.
Bisakah dibelokkan?
Pada awal abad yang lalu penulis Oscar Wilde menyatakan: ”The truth is rarely pure and never simple”. Dengan semakin canggihnya praktis bisnis, kita rasakan kebenaran pun memang semakin samar. Bukan tindakan korupsi yang sudah jelas-jelas salah, tetapi juga janji yang tidak ditepati, kebenaran yang ditutup-tutupi, jalan pintas, pinjaman bank dengan agunan yang tidak sama nilainya, bahkan ketidaksanggupan membayar utang sering dipindahkan tanggung jawabnya keluar individu. ”Siapa suruh banknya memberi bunga yang mencekik?” demikian seorang debitor yang tidak sanggup membayar cicilan. Hal yang mencengangkan adalah kebenaran yang sudah dikuakkan, disaksikan semua orang, bisa-bisanya diputarbalikkan, atau bahkan dilupakan secara bersama-sama.
Kita bisa merasakan betapa jeritan untuk menegakkan kejujuran seolah-olah tindakan menggapai pelangi. Teman saya yang terkenal berintegritas masih mengatakan: ”Yah, kalau seorang pejabat mengeluarkan begitu banyak uang untuk memperoleh jabatannya, kemudian melakukan tindak korupsi untuk membayarnya kembali, itu masuk akal….” Kita lihat bahkan kejujuran atau kebenaran bisa begitu mudahnya dibicarakan seakan bisa di-”gunting-copot” dari pribadi kita, tergantung situasinya. Seolah-olah, secara personal mungkin seseorang bisa sangat-sangat jujur, tetapi untuk kepentingan politik, kejujuran terpaksa dibelokkan.
Bukan semata teori
”Ah, teori….” Komentar ini terdengar di sebuah ruang tunggu sopir di sebuah gedung ketika wacana mengenai pembubaran rutan yang berjaringan korupsi, penegakan disiplin, dan hukuman bagi koruptor dibicarakan. Bicara memang mudah, tetapi implementasi adalah tantangan yang sesungguhnya. Kita tidak bisa menilai sebuah perusahaan, lembaga, atau negara dari pernyataan, slogan, dan company profile-nya saja. Budaya yang sebenarnya selalu “unspoken”, hanya bisa diobservasi. Realitas kejujuran hanya bisa tergambar pada perilaku, terutama perilaku pemimpinnya, bagaimana sistem dijalankan, serta simbol-simbol yang ada secara konsisten.
Perusahaan yang mengutamakan efisiensi pasti tidak akan sembarangan dalam menandatangani cek pembayaran, dan akan melakukan negosiasi habis-habisan. Perusahaan yang mengumandangkan servis, tidak mungkin memperlakukan pelanggan atau komplen pelanggan secara asal-asalan.
Pemilik perusahaan IKEA, Ingvar Kamprad, sangat menjunjung tinggi filosofi perusahaannya yang ekonomis, sederhana, dan fungsionalnya. Meski terkenal kaya raya, ia membuktikan filosofinya dalam kebiasaan antre kalau ada sale, bepergian dengan kelas ekonomi, dan menjalankan hidup secukupnya secara konsisten. Di sini kita belajar untuk senantiasa mengevaluasi, seberapa jauh kita menghidupkan nilai-nilai kebenaran dalam tindakan sehari-hari? Apakah kebenaran baru sebatas slogan dan hiasan bibir saja, atau benar-benar sudah bisa terasa, terbaca, terlihat secara nyata oleh orang lain?
Benarkah budaya kejujuran tidak bisa ditransformasikan lagi?
Tanpa kita sadari, pelajaran kebohongan bisa dimulai sejak kecil. ”Bilang saja ayah sedang tidak di rumah,” demikian perintah seorang ayah yang menolak berbicara di telepon. Bisa juga tindakan jujur seorang anak tidak sempat di-reward oleh orangtua ataupun gurunya. Misalnya saja, apabila seorang anak mengembalikan barang yang sangat menarik milik temannya, disaksikan oleh gurunya, ia tidak mendapat pujian yang layak sehingga kita melewatkan momentum pelajaran kejujuran yang berharga.
Apabila saja mulai dari lingkungan kecil kita dibiasakan dan diberikan contoh konkret agar semua orang berkata jujur, apa pun konsekuensinya, kita sudah memulai gerakan kejujuran dengan baik. Apalagi apabila kita menjual konsep bahwa dengan berkata jujur, kita tidak membuat masalah semakin ribet.
Larry Johnson dalam bukunya Honesty Pays mengatakan, ”Do your homework first, open the debate, open your ears, open your mouth, and open your mind”. Kita memang perlu membiasakan diri untuk bersikap terbuka untuk menyatakan ketidaksetujuan, protes, atau perbedaan pendapat. Dengan demikian, kita bisa mengikis sikap defensif dan pembiaran yang bisa membunuh semangat untuk menegakkan kejujuran. Pembuktian terhadap menangnya kejujuran adalah penyelesaian masalah yang jelas dan terbuka sehingga setiap orang mempunyai spirit dan tetap bisa membuktikan pada dirinya sendiri bahwa sikap jujur lebih baik daripada tidak.
Read more »

 
Powered by Blogger